(berpolitik.com): Dalam politik, jikalau menyerang, haruslah siap diserang. Karena itu, sebelum menyerang, ada baiknya memeriksa diri sendiri. Dalam pemilu, urusan serang-menyerang sudah menjadi kelaziman belaka. Tanpa itu, pemilu akan dianggap bagai sayur tanpa garam.
"Punyakah Anda kebusukan yang harus kami ketahui?" Ini adalah pertanyaan awal setiap konsultan politik. Bukan ingin meyibak aib, konsultan membutuhkan informasi itu untuk menyiapkan strategi jalan keluar jika jagoannnya diserang.
Isu soal perempuan, kehidupan menyimpang atau korupsi biasanya jadi sorotan utama. Tiga-tiganya dianggap merepresentasikan moralitas sang kandidat.
Jika tak terungkap, konsultan tak perlu kerja keras, sang calon tak perlu deg-degan.
Dalam kasus Indonesia, keanehan bukan tak terjadi. Bupati dan Wakil Bupati sebuah kabupaten di Jawa sempat terkena isu panas. Foto adegan mesum keduanya menyebar di internet. Kala itu, keduanya masih berstatus calon. Yang ajaib, mereka tetap menang.
***
Di luar pemilu, urusan serang-menyerang juga lazim saja. Oposisi menyerang, penguasa bertahan. Sesekali, justru terjadi sebaliknya kalau oposisinya membuat blunder.
Meski serang-menyerang, masing-masing kubu biasanya siap menggelar lobi. Membuat kompromi.
Jikalau posisinya lagi menguntungkan, oposisi biasanya ogah dengan lobi. kalau perlu, seperti menajiskan lobi. Wacana yang dibangun, mereka adalah pejuang kebenaran. Yang mau melakukan lobi adalah penjahatnya.
Di lain waktu, mereka dengan enaknya mengumbar keharusan lobi. Terutama kalau kepepet atau takut tak kebagian jatah.
Ini biasa saja, namanya saja 'pulitik'.
***
Yang repot, kalau urusan serang-menyerang ini kemudian dipakai sebagai tameng.
Ketika aib mereka terungkap, tuduhan pun dilemparkan. Yang korupsi, bilang itu tekanan. Yang nilep duit, bilang itu teror. Yang ngemplang pajak, bilang itu ancaman. Semuanya mengaku dizalimi.
Dengan merasa dizalimi, pokok perkara bagai dilupa. Seolah pengemplangan pajak itu tak terjadi. Seolah-olah tak ada korupsi. Seolah-olah tak ada yang namanya gratifikasi, manipulasi duit dan sebagainya.
Sebabnya, "mereka" adalah "pejuang kebenaran". Sebab, kasus itu diungkap ketika mereka tengah menyibak apa mereka sebut skandal.
'Penegakkan kebenaran' tiba-tiba seperti mentolerir adanya korupsi, penilepan dan pengemplangan. Sebab, itu dilakukan kawan seiring.Sungguh runyam kalau moralitasnya bengkok seperti ini. Sungguh celaka, karena yang model seperti inilah yang dianggap benar.
Duh, Repotnya...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar