Hidayah say's

Tunjukkan Aksimu di Ramadhan 1431 H.

Minggu, 03 Oktober 2010

Obat Hewan Indonesia: Diam-diam, Menembus Pasar Dunia

Peta persaingan bisnis obat hewan dalam negeri kian jelas terpetakan, yang tidak terafiliasi dengan grup besar, pangsa pasarnya terancam mengecil. Solusinya kembangkan pasar ekspor.
Tanpa gembar-gembor, obat hewan produksi Indonesia telah merambah ke pasar dunia. Ini tidak semata karena kian ketatnya persaingan di pasar domestik, tetapi lebih dari itu. Efisiensi dan efektivitas mutu produk obat hewan Indonesia telah diakui memenuhi standar atau lebih tuntutan pasar global. Obat hewan nasional yang mencakup produk biologik (contohnya vaksin), farmasetik (contohnya antibiotik), dan premiks (contohnya vitamin dan asam amino) merupakan bagian yang dinamis dari industri peternakan di tanah air.
Berdasarkan data Direktorat Kesehatan Hewan – Kementerian Pertanian (Ditkeswan Kementan), nilai ekspor obat hewan pada 2009 yang sebesar US$ 842.711.370 bila di-rupiah-kan setara dengan Rp 8 triliun (US$ 1 = Rp 9.500). Sedangkan nilai total pasar obat hewan dalam negeri pada tahun yang sama, bila dibanding dengan nilai ekspor 2009 tersebut, hanya seperempatnya saja atau sekitar Rp 2 triliun. Angka sebesar Rp 2 triliun ini lah yang diperebutkan oleh para pelaku bisnis obat hewan nasional.
Menurut Rakhmat Nuriyanto – Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI), pasar obat hewan dalam negeri meski masih menjanjikan, persaingannya sangat ketat. Lanjutnya, ”kue” bisnis obat hewan yang tak mengalami pembesaran secara signifikan terus diperebutkan oleh banyak pelaku, baik lokal maupun internasional. ”Berdasarkan data ASOHI, total ada sekitar 77 perusahaan produsen dan 200 perusahaan importir obat hewan. Semua pelaku tersebut saling berjibaku memperebutkan porsi ’kue’ bisnis obat hewannya masing-masing,” terangnya.
Berdasarkan pengamatan Maureen Kalona Kandou – Wakil Presiden PT Vaksindo Satwa Nusantara dari 2009 ke 2010, peta persaingan bisnis obat hewan dalam negeri semakin jelas dan terpetakan, serta pangsa pasarnya diraup oleh pelaku besar. Tambahnya, pelaku bisnis perunggasan pun semakin jelas dan beberapa grup besar menggandeng perusahaan obat hewan sehingga porsi ”kue” obat hewan dikuasai oleh beberapa grup besar tersebut.
Ia memperkirakan sekitar 80% pangsa pasar obat hewan telah terbagi pada grup-grup besar tersebut. ”Bagi perusahaan obat hewan yang tidak terafiliasi (tergabung) dengan beberapa grup besar tersebut, maka pangsa pasarnya akan semakin kecil,” terang Maureen yang perusahannya kini bergabung dengan grup Japfa.
Peta persaingan obat hewan itu, tambah Maureen, semakin jelas dengan adanya pencanangan CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik). ”Perusahaan yang tidak memenuhi CPOHB akan terseleksi. Akhirnya hanya perusahaan besar dan berkomitmen lah yang akan memenangi persaingan bisnis obat hewan nasional,” tandasnya.
   
Peningkatan Keuntungan
Menurut Rakhmat, ”kue” bisnis obat hewan dalam negeri masih bisa diperbesar mengingat tingkat konsumsi produk asal ternak masyarakat Indonesia masih rendah. Juga ditambah dengan adanya Program Swasembada Daging Sapi (PSDS) 2014 oleh Kementerian Pertanian yang akan menambah jumlah ternak sapi.
Akan tetapi, lanjut Rakhmat,  memanfaatkan peluang tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Semua pelaku pun perlu bersatu untuk memperbesar ’kue’ bisnis obat hewan itu. Oleh karena itu, merambah pasar ekspor (luar negeri) merupakan salah satu solusi untuk meningkatkan volume dan nilai penjualan obat hewan masing-masing pelaku tersebut. Pasar ekspor pun dapat disimultankan dengan dalam negeri agar keuntungan lebih maksimal,” jelasnya secara logis.
Peter Yan – Wakil Presiden Direktur PT Medion sependapat dengan Rakhmat. Ia berpendapat, ekspor bisa menjadi solusi dari ketatnya persaingan dan jenuhnya pasar obat hewan dalam negeri. ”Pertambahan populasi ternak kita rendah, sedangkan pelaku yang memperebutkan ’kue’ bisnis obat hewan banyak. Meskipun tingkat kompetisi pasar ekspor itu tinggi, karena negara di dunia ini banyak jadi kita bisa memilih negara mana yang sesuai dengan kemampuan kita,” terangnya.
Akan halnya margin keuntungan ekspor, menurut Rakhmat, sangat relatif. Ia menjelasakan, hal ini tergantung berapa nilai jual ke negara tujuan, transportasi, dan biaya ekspor lainnya. Jadi belum tentu margin keuntungan ekspor itu selalu lebih tinggi dari dalam negeri. Akan tetapi bila ditinjau dari segi produksi, ekspor sangat menguntungkan. ”Pembelian bahan baku bisa lebih murah, serta biaya produksi lebih efisien dan hemat,” terangnya.
Maureen mengiyakan Rakhmat, dengan ekspor, katanya, produk kita akan semakin diakui oleh konsumen dan pelanggan.  Ia menambahkan, awal mula perusahaannya melakukan ekspor,  untuk memenuhi kapasitas produksi yang melebihi daya serap pasar dalam negeri, agar efisien biaya produksinya.
Angka Fantastis
Sejak 2007, ekspor obat hewan mencatat angka cukup fantastis. Ditkeswan Kementan mencatat, nilai ekspor obat hewan Indonesia pada 2007 sebesar US$ 410.078.090, 2008 sebesar US$ 552.097.110, lalu melonjak hingga 1,5 kali lipatnya menjadi US$ 842.711.370 pada 2009. Angka-angka tersebut, menurut Agus Wiyono -  Direktur Ditkeswan Kementan, menunjukkan bahwa obat hewan nasional merupakan salah satu penyumbang devisa negara yang potensial. ”Akhir 2010 ini, saya prediksi nilainya akan meningkat dari tahun sebelumnya karena secara umum kondisi perekonomian telah membaik,” ujarnya.
Masih berdasarkan data Ditkeswan Kementan, ekspor obat hewan nasional telah merambah ke 47 negara, meliputi Asia, Afrika, Eropa, hingga Amerika Serikat. Eksportirnya terdiri dari perusahaan obat hewan lokal dan multinasional. Perusahaan obat hewan lokal adalah PT Medion, PT Vaksindo Satwa Nusantara, PT Kalbe Farma, dan PT SHS Internasional. Sedangkan yang multinasional adalah PT Cheil Jedang Indonesia, PT Trouw Nutrition Indonesia, dan PT Pfizer Indonesia.
Abdul Rahman – Kasubdit Pengawasan Obat Hewan Ditkeswan Kementan menambahkan, bahwa obat hewan yang diekspor itu masih didominasi untuk unggas. “Obat hewan untuk unggas bisa mencapai sekitar 90%, sisanya untuk ternak ruminansia dan babi,” katanya.
Abdul berpendapat, data ekspor dengan tren yang terus meningkat tersebut membuktikan,  obat hewan nasional memiliki daya saing di kancah internasional. “Khusus untuk perusahaan obat hewan lokal, ini membuktikan bahwa Indonesia mampu dan sejajar dengan negara lain yang telah maju. Sebagai contoh ekspor vaksin, ini berarti bahwa kita memiliki ahli mikrobiologi yang berkualitas,” tuturnya.
Abdul menilai, negara-negara di kawasan Asia dan Timur Tengah merupakan pasar yang potensial bagi obat hewan nasional. Tetapi ia pun menyebutkan Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam merupakan pesaing utama Indonesia untuk wilayah Asia Tenggara. Sedangkan untuk kawasan Asia, China merupakan pesaing yang cukup berat. ”Tipikal China adalah bila mereka telah memproduksi sendiri, maka akan memproteksi diri dari produk asing. Karenanya kita harus mampu dan pasti bisa bersaing dengan negara-negara tersebut,” tandasnya.
CPOHB Mutlak
Untuk mampu berkompetisi di kancah internasional, kualitas adalah mutlak. Agar obat hewan berkualitas, tutur Agus, produsen lokal harus mampu memproduksi obat hewan dengan jaminan mutu, keamanan, dan efikasi yang baik. “Untuk itu sertifikat CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) wajib dimiliki agar berdaya saing,” tegasnya. Dengan telah diauditnya 12 produsen obat hewan nasional untuk sertifikat CPOHB, Agus yakin obat hewan nasional memiliki kualitas yang sangat baik.
Menanggapi Agus, Rakhmat menambahkan, meskipun baru 12 perusahaan yang mendapat sertifikat CPOHB, bukan berarti perusahaan obat hewan yang lain tidak mampu. “Banyak perusahaan lain yang belum mendapat kesempatan. Proses auditnya bertahap dan antri. Intinya hanya masalah waktu saja,” tuturnya sembari berharap agar semua perusahaan obat hewan bisa mendapat sertifikat CPOHB. Untuk itu, tambah Rakhmat, ASOHI terus memberikan dukungan dan pembinaan kepada anggotanya.

Mimpi dalam Islam: Sebuah Refleksi Bagi Kekuatan Tauhid

Apakah anda tadi malam bermimpi dalam keheningan tidur nyenyak? Mungkin iya. mungkin tidak. Atau apakah anda pernah bermimpi? Kalau yang ini jawabanya pasti iya. Mimpi memang menjadi objek yang menarik. Karena biasanya mimpi bisa menceritakan tentang kehidupan kita, menceritakan kisah orangtua kita, yang bisa jadi itu menyenangkan ataupun tidak.
Ia bisa membuat kita meretas senyum, menstimulir cucuran keringat, atau tanpa kita sadari mimpi lah yang membangunkan kita di kehampaan malam jauh sebelum jam weker mengusik lelap kita. Bedanya ada yang bangun sambil berteriak, jantung berdegup, atau kita tak dapat mengelak untuk membiarkan jiwa menyulut istighfar.
Dalam psikologi modern, ada beberapa psikolog yang cukup fokus untuk mengkaji mimpi, salah satunya, Sigmund Freud dari mazhab psikodinamika. Menurut Sigmund Freud, stimulus dan sumber dari kemunculan sebuah mimpi ada 4, yaitu:
  1. External Sensory Stimuli
  2. Internal (subjective) Sensory Excitations
  3. Internal Organic Somatic Stimuli
  4. Psychical Source of Stimulation
Jadi kalau boleh kita sederhanakan, stimulus dan sumber tersebut bisa muncul dari dalam diri individu seperti dorongan tertentu, harapan dan keinginan-keinginan atau yang bersifat eksternal yang biasanya berasal dari pengalaman obyektif atau bisa juga karena rangsangan organ badan maupun kondisi fisik.
Namun kalau kita mengkaji lagi, hal itu diucapkan Freud bukanlah tanpa system, system psikologi seksualitas tentunya. Karena timbulnya mimpi, mayoritas sebagai pengendapan unsur libido dan id yang tak bisa terealisasi di dunia nyata, dan pada ujungnya harapan itu mengendap pada alam bawah sadar dan muncul secara “tidak fair” via mimpi.
Setelah itu, tak dapat dipungkiri manusia, bahwa mimpi adalah sebuah fenomena yang terkadang merupakan sebuah penjelasan akan terjadinya suatu hal di masa mendatang (futuristik). Problemnya kemudian, lebih daripada itu, mimpi juga ternyata bisa berubah untuk melambangkan suatu infromasi yang jauh dari tangkapan logika manusia, semisal sketsa alam ghaib yang sulit dicerna, samar-samar, absurd, dan sulit untuk dipahami. Hal ini coba dianalisa oleh berbagai pakar, khusunya ulama atau para pengkaji mimpi dengan basis agamis.
Kenapa? Pertama, mimpi yang bersifat ghaib masih intens sebelum kiamat mendera. Kedua, ini problem, karena ruang ini belum bisa difasilitasi oleh studi psikologi modern seperti psikodinamika atau behaviorisme, sebab ini berkaitan pada konteks filosofis ilmu atau epsitemologi psikologi. Hal-hal yang berbau ghaib, sulit diendus indera, jauh dari bayangan logika, pada hakikatnya akan dijauhkan dari psikologi, atau sesekali hendak dibunuh. Ini tak lain dikarenakan tajuk “klenik” memang tidak dapat dicerna oleh sensoris (pancaindera) yang melulu menjadi pegangan ilmu modern.
Alhasil jarang para psikolog modern berkutat dalam arus yang menantang ini, menjabarkan, menganalisa hingga samapai terkonversi menjadi hipotesa pasti. Dan pada akhirnya hal yang vital ini terbuang begitu saja atau paling tidak dipendam dalam alam bawah sadar manusia tanpa kita pernah memikirnya. “Hallah…Cuma mimpi ini” mungkin begitu lah sebagian kita bergumam.
Pertanyaannya, betulkah hal-hal seperti itu tak perlu dijelaskan, atau kalau mau disebut ilmiah, hal ini sebagai cerita yang tidak bisa dikaitkan dengan nalar? Lho bukannya ilmu diturunkan untuk menjawab persoalan apapun itu? Lantas apakah hal semacam ini bisa dijadikan studi, kajian ilmiah, bahkan objek penelitian? Mungkin diantara anda, yang terbiasa dengan konstruk rasionalitas dalam berpikir, akan bersifat skeptik. Tapi bagaimana dengan Islam? Ini yang menarik.
Islam, mengutip apa yang dijabarkan Muhammad Ustman Najati dalam kitabnya tentang Psikologi dalam Tinjauan hadis nabi ternyata membahas mimpi dengan mendalam. Mimpi dalam risalah hadis salah satunya disebut dengan sebutan hulm. Menurut Ahmad Mubarok, term ahlam disebut Al-Qur’an sebanyak lima kali , dua kali term al hulum (dari halama yahlumu) dalam arti mimpi “pertama” (والّذين لم يبلغوا الحلم), 131 satu kali ahlam (dari haluma yahlumu hilm) disebut dalam arti fikiran-fikiran (أم تأمرهم أحلامهم بهذا)132 dan dua kali disebut adghas ahlam, dalam arti mimpi-mimpi kalut, yakni pada surat Yusuf/12:44 dan Q/21:5.
Lompat dari hal diatas, ternyata Islam tidak berhenti menyertakan term mimpi dalam riwayat definisi, tapi Islam sampai pada melakukaan distingsi/membedakan klasifikasi mimpi yang jauh dari tangkapan psikologi modern (baca: Psikoanalisis dan Goddert ) yang hanya mengutak-atik mimpi dalam area sensoris saja. Karena jika kita susuri lebih jauh, ternyata makna dan penyebab timbulnya mimpi ditarik oleh Islam kepada sudut yang lebih paripurna dan pasti bermakna, karena ia tidak hanya terjebak pada matematika inderawi, tapi kemudian diseret kepada transfer nilai tauhidi, yang itu tidak bisa dijelaskan oleh Psikologi modern, atau neo modern sekalipun.
Menurut ulama-ulama Islam kontemporer, seperti Muhammad Usman Najati dan Azzahrani, Al Qur’an menyebut mimpi dalam dua tema, yaitu ru’ya dan adghatsu ahlam (mimpi yang sulit ditakwil). Terkadang ru’ya merupakan mimpi yang bisa menyingkap misteri alam ghaib atau kejadian yang bersifat futuristik. Ru’ya juga muncul dalam manifestasi berupa perintah yang harus diemban oleh orang yang bermimpi tersebut. Sedangkan adghatsu ahlam merupakan mimpi yang sulit ditafsirkan. Hal yang terakhir inilah yang kemudian banyak digarap psikologi modern, karena mimpi ini terklasifikasi sebagai tammpilan yang berupa symbol-simbol, lambang, sandi-sandi, yang itu semua mesti dijabarkan dalam analisa mendalam.
Dalam hadis Abu Hurairah yang dihimpun oleh Muslim disebutkan pula tiga jenis ru'ya, yaitu (1) mimpi baik yang merupakan khabar gembira dari Allah. (2) mimpi yang menyusahkan yang datang dari syaitan dan (3) mimpi yang disebabkan oleh perhatian manusia terhadap sesuatu atau hal-hal yang telah berada di alam bawah sadarnya. Dan biasanya yang ketiga ini masih standard an jarang dikaji ulama, karena bersifat keduniawian semata, walaupun Ulama seperti Azzahrani menguraikannya dengan lebar.
Al Qur’an, sebagai kitab paripurna, mengisahkan banyak sekali ru’ya yang menimpa para nabi. Misalnya tentang ru’ya nabi Ibrahim AS, yang akhirnya sebab ru’ya itulah tiap tahun kita bersama-sama merayakan idul adha. Hal ini tertera dalam surah Ash-Shafat ayat 102-105 yang artinya:
“Maka ketika anak itu sampai pada umur dewasa yakni sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, 'Wahai anakku yang kusayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah, bagaimana pendapatmu. 'Dia (Isma'il) menjawab,'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatkanku termasuk orang yang bersabar. 'Maka setelah keduanya bertekad bulat dalam berserah diri (kepada Allah) dan dibaringkan pipi (Isma'il) di atas tanah. Kemudian kami berseru kepadanya, 'Hai Ibrahim, engkau telah benar-benar melaksakan perintahKu dalam mimpi itu. Demikianlah sesungguhnya Kami membalas orang-orang yang berlaku baik.”
Al Quran juga dengan jelas merekam Ru’ya yang tersandar pada kisah Nabi Yusuf AS. Ru’ya ini beda dengan apa yang dialami Nabiyullah Ibrahim AS, karena ru’ya yang dialami nabi Yusuf merupakan ru’ya tanda-tanda turunnya kenabian kepada beliau.
“(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” Surat Yusuf ayat 4
Ada kisah lain juga yang tentunya menarik. Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah Nabi Muhammad s.a.w. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani.
“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”
Pertanyaannya kemudian, apakah dengan begitu ru’ya hanya menimpa Nabi-nabi Allah? Dan mustahil orang muslim biasa, terlebih kafir akan merasakannya? Setidaknya dalam surah yusuf ayat 36-41, Al Qur’an menjelaskan ru’ya membantah itu, ini sesuai dengan yang dialami dua orang pemuda yang bersama-sama Nabi Yusuf AS ketika berdoa di dalam penjara. Al Qur’an masih dalam surah yang sama juga mengisahkan tentang Ru’ya seorang Fir’aun Raja Mesir itu yang menyaksikan dalam mimpinya tujuh ekor sapi kurus memakan tujuh ekor sapi gemuk, serta melihat butiran gandum yang hijau dan tujuh butir gandum yang sudah kering. Tak lama kemudian bak interpreter mimpi, ru’ya itu kemudian dita’wil oleh Yusuf seperti yang dikisahkan dalam surat Yusuf/12: 47-49 sebagai isyarat akan datangnya musim paceklik dan cara-cara mengantisipasinya.
Kita tentu masih penasaran sampai pada satu titik kenapa ru’ya ini bisa menimpa nabi dan orang pada biasanya? Inilah sebuah penjelasan yang belum bisa ditangkap oleh psikologi modern, studi ilmiah, kajian mimpi berbasis analisa data, atau semacamnyam, bahwa pada dasarnya Allah Yang Maha Kuasa, Maha Pencipta dan Zat yang Utama, mempunyai berbagai cara untuk menurunkan hikmah kepada setiap hambaNya.
Ini dapat kita tangkap melalui suatu hadis dari Abu Qatadah ra. yang mendengar Rasulullah saw. bersabda: Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya. Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim 4195.
Setelah sampai sini anda membaca. Mungkin beberapa anda dengan heran menangkap kesan terjadi dualisme term mimpi yakni, ru’ya dan ahlam sebelumhya. Apakah ada perbedaan antara Ru`ya dan Ahlam. Syaikh al-Munajjid menangkap kesan ini dan menjelaskan dalam satu sitiran satu hadis tapi vital. "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Ru`ya Shadiqah (mimpi baik) berasal dari Allah dan 'Hulm' (jamaknya Ahlam) berasal dari setan." Ru`ya yang dinisbatkan kepada Allah subhanahu wata'ala tidak dikatakan Hulm dan yang dinisbatkan kepada setan tidak dikatakan Ru`ya. Perbedaan ini telah ditunjukkan oleh syari'at. Ru`ya adalah hal baik yang dilihat manusia dalam mimpinya sedangkan Hulm adalah apa yang diimpikan dan dilihat dalam mimpi. Keduanya masih sinonim." Sedangkan al-Alusi dalam tafsirnya menyebutkan, Ru`ya dan Ahlam adalah apa dilihat seorang yang tidur secara mutlak, hanya saja penggunaan Ru`ya lebih dominan untuk hal yang baik sedangkan Ahlam sebaliknya.
Klasifikasi Mimpi
Seperti yang disebut kan Syaikh Khalid al-'Anbari, mimpi ada tiga jenis: Pertama, Ru`ya Shalihah yang merupakan kabar gembira dari Allah subhanahu wata'ala dan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian. Kedua, Mimpi buruk dan dibenci, yaitu hal-hal menakutkan yang berasal dari syetan untuk membuat manusia bersedih dan mempermainkannya di dalam mimpi. Ketiga, Mimpi yang diakibatkan kondisi psikologis seseorang dalam keadaan jaga, lalu terbawa ke dalam mimpinya, termasuk juga hal yang biasa dilihatnya waktu jaga seperti orang yang biasanya makan pada waktu tertentu lalu tidur ketika itu, maka ia melihat dirinya makan dalam mimpi, atau merasa muak dengan makanan atau minuman, lalu bermimpi sedang muntah.
Sedangkan Menurut Usman Najati atas beberapa hadis yang disebutkan oleh Rasululllah SAW, beliau menyimpulkan pada dasarnya ada dua jenis mimpi, yakni mimpi baik yang menyebabkan manusia bahagia mimpi ini berasala dari Allah SWT. Sedangkan mimpi jenis lainnya adalah mimpi yang bisa menimbulkan rasa tidak senang yang berasal dari syaiton. Hal ini didasarkan oleh sebuah hadis.
Riwayat Bukhari ra., ia berkata: Dari Abu Sa`id Al-Khudri, bahwa sesungguhnya dia mendengar Nabi saw. bersabda: “Apabila seorang dari kamu melihat suatu mimpi yang menyenangkan maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari Allah, maka hendaklah ia memuji Allah (bertahmid) atas mimpinya itu dan hendaklah ia memberitakannya. Dan apabila ia melihat (bermimpi) tidak demikian dari yang tidak menyenangkannya maka sesungguhnya mimpi itu hanyalah dari syaitan, maka hendaklah ia memmohon perlindungan (ta`wwudz kepada Allah) dari keburukaannya dan janganlah menuturkannya kepada seseorang, maka mimpi itu tidak membahayakannya (madharat)”.
Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud juga mengkuatkan hal lain bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Mimpi itu datangnya dari Allah, sedangkan mimpi lamunan itu datang dan setan.” (H.r. Bukhari).
Karenanya, Islam kemudian tidak membiarkan manusia bermimpi tanpa arti dan tanpa tidak lanjut. Islam juga tidak melenakan manusia untuk mendefenisikan mimpi sekdar matematika hampa. Karena dengan sebuah mimpi baik, Allah ingin mengajarkan kita bahwa sudah seharusnya kita bersyukur dan menafakuri kehidupan dengan jernih sebelum ajal tiba, Ia juga mendelegasikan bahwa ada hikmah dlam tiap rekam jejak kita dalam mimpi walau hanya sehelai rambut.
Selain itu juga, mimpi dalam Islam, mengajarkan kejujuran sebagai fondasi suatu amanah. Mimpi bukan pena putih yang tak bisa berwarna saat ditulis di kertas putih. Ia tidak berarti berelasi apa-apa seperti yang tertera dalam kitab psikologi modern, yang menuangkan mimpi hanya pada kanvas sensorik, elbih-lebih itu problem seksual dan nafsu ala interpretation of Dreams Sigmund Freud. Karena sebuah mimpi bisa jadi alamat petunjuk atas sebuah kisah yang penuh ibroh bagi rekosntruksi Iman. Karena itu, Nabi pernah bersabda. “Dari Nabi bahwa beliau bersabda: Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian.
Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama.”
Salah satu hadis yang diriwayatkan dari Abi Qatadah juga menampilkan terapan praktis bagaimana sikap seorang muslim ketika mendapati dalam tidurnya mimpi baik dan mimpi yang membuat jiwa kalut.
”Ru'ya itu datangnya dari Allah dan al hulm itu datangnya dari syaitan. Maka bila salah seorang diantaramu mengalami mimpi kalut yang tidak disukainya, maka hendaknya meludah ke kiri tiga kali dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukannya, maka sesungguhnya mimpi buruk itu tidak akan membahayakannya (HR Muslim)”
Refleksi Menuju Kekuatan Tauhid
Bayangkan dari sebuah hal yang kecil saja, seperti mimpi, Islam mempunyai cara bagaimana, menjelaskan, mendefinisikan, mengklasifikasikan sampai pada tiba pada sebuah penyadaran. Subhanallah. Begitu paripurnanya Islam mengatur manusia pada sudut-sudut sempit yang sama sekali tak tergambar oleh kita.
Psiklologi mimpi dalam Islam punya relasi yang luas dan komperhensif namun sarat ilmu, iman, dan amal. Bagaimana hanya dari sebuah tayangan ketika kita tidur itu, Islam kemudian menariknya menjadi landasan tauhid. Mimpi tidak terjadi dengan sendirinya, mimpi juga bukanlah semata-mata aktivtas inderawi, pengendapan cita-cita, logika sederhana, yang dijelaskan Goddert dan Freud, karena sekalipun mimpi itu hasil jebakan syetan, tak satupun detik yang bergulir terjadi tanpa izin Allah.
Karena itu, sudah sepatutnya manusia mengingat bahwa hidup itu sebentar dan setiap kaki yang melangkah amat dekat sekali dengan kematian. Dari sini, kita juga patut menjabarkan bahwa mimpi memiliki kedua sayap dari satu tubuh yang sama, saling kontras tapi berdekatan, yakni kehidupan dan kematian. Karena bermula dari sebuah mimpi laki-laki mukmin dinyatakan baligh untuk menghirup relung-relung insani sebagai hamba yang lengkap dengan tugas-tugas imaninya di depan.
Dan dibalik itu dari sebuah mimpi dan aktivitas tidur, ternyata manusia dekat sekali dengan kematian. Karena banyak pula saudara kita yang dari tidurnya justru menjadi jalan untuk kembali ke Sang Pencipta. Alangkah meruginya jika rasio kita tidak bisa menangkap hal Ini bahwa pikiran dan ruh kita betul-betul tergenggam olehNya, terlebih dalam tidur.
Dan kita sebagai yang mengaku mukmin, kadang tidak menyadari bahwa dunia adalah media jebakan semata dan momentum ujian keimanan dari Allahu Ta’ala. Tidak ada yang “gratis” dalam hidup ini semuanya ada bayaran menjadi iman atau kufur, termasuk lewat mimpi. Terserah kita memilih yang mana. Wallahua’lam bishshawab.

Malaysia Berulah, Pejabat Indonesia Saling Netralisir Pernyataan


berpolitik.com): Barangkali maksudnya baik: menciptakan suasana yang kondusif. Karena itulah Konjen RI di Johor dengan yakin bilang bahwa 3 pegawai DKP tidak ditahan. "Mereka hanya dititip di kantor polisi," katanya sebagaimana dikutip sebuah televisi nasional, Selasa (17/8) malam.


Seperti kompakan, Menlu Marty Natalegawa membantah kabar yg cepat beredar di media. Marty menegaskan tak ada barter dengan Malaysia. Menurut Marty, pembebasan 3 DKP dan pelepasan 7 nelayan Malaysia adalah cara bersahabat dan saling unjuk hormat.

Masalahnya, masih tersisa fakta berita seperti ini:

Pertama, 3 pegawai DKP ternyata memakai baju tahanan. "Ketiga anak buah saya dipakaikan baju tahanan ketika kami temui. Saya prihatin, tetapi ya sudahlah, yang penting mereka akhirnya bebas," tutur Bambang Nugroho, Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak(Kompas).

Kedua, pihak Malaysia menganggap penangkapan tiga pegawai 3 DKP itu hal kecil yang tak perlu dibesar-besarkan.Namun, testimoni Fadel Muhammad menandakan ini seharusnya bukan persoalan sepele: "Ini sudah yang ke sepuluh kalinya," kata Menteri Kelautan dan Perikanan ini sebagaimana dikutip JPPN

Ketiga, meski mengaku tak ada kompromi soal kedaulatan, justru Indonesia yang bergegas melakukan lobi agar pihak Malaysia membebaskan ketiga pegawai DKP (Kompas). Gilanya, pihak pejabat Indonesia membuat dalih baru: nelayan Malaysia harus dilepas karena kurang bukti. (Kompas)

Ketiga fakta berita secara telak menganulir pernyataan-pernyataan pejabat pemerintah lainnya. Lantas, apa konsekuensinya?

Pertama, tidak koherennya argumentasi dari para pejabat terkait tak pelak menjadi amunisi bagi para pengkriti pemerintah untuk terus melontarkan kritik dan celaan.

Kedua, hal ini dengan mudah membangkitkan berbagai tafsir. Kelemahan sikap terhadap Malaysia yang ditunjukkan secara konsisten dengan mudah diisi berbagai kisah. Dari mulai persoalan kepemimpinan hingga isu bisnis. Pada intinya, situasi ini berpotensi hanya menambah tekanan belaka kepada pemerintah. Alih-alih diam, pemerintah semestinya bergerak lebih cepat. Sebab, kevakuman adalah kondisi yang paling nyaman bagi rumors untuk berseliweran.

Ketiga, sikap pemerintah mudah dimaknai sebagai "lembek". Ini memberi peluang bagi pihak-pihak tertentu untuk membangkitkan kembali romantisme orba atau orla yang dipersepsi punya sikap galak dan tegas terhadap negeri serumpun itu.

Dus, apa yang bisa diperbuat oleh pemerintah?

Yang paling urgen adalah mengisi kevakuman. Misalnya, memajukan isu soal keterbatasan persenjataan. Dalam situasi normal, tambahan alokasi untuk pembelian senjata kerap ditentang sejumlah kalangan.

Namun, dengan mood publik seperti sekarang ini, situasinya jelas berbeda. Ada sentimen positif jika DPR dan pemerintah segera mendeklarasikan perlunya kenaikan anggaran belanja militer. Terlebih kalau pemerintah segera menegaskan, persenjataan yang dimaksud dikhususkan untuk angkatan laut dan udara yang memang paling tertinggal ketimbang negara jiran.

Yang berikutnya, bagaimanapun pemerintah perlu sesekali unjuk gigi. Tentu saja bukan dengan cara memaklumatkan perang atau membuat kehebohan kecaman. Pemerintah perlu menunjukkan bahwa mereka mendengar kegalauan warganya.

Hal Ini bisa dilakukan dengan cara seperti memanggil Dubes RI pulang,mempesonanongratakan Dubes Malaysia atau membuat kebijakan yang lebih menyulitkan pebisnis Malaysia beroperasi di tanah air. Tentu, pemerintah punya cara lain yang pada intinya bisa unjuk sikap tanpa mesti terbawa gaya lebay seperti mengancam pemutusan hubungan diplomatik atau lainnya.

Mahasiswa FIB UGM Terima Beasiswa Lotte Mart

Enam mahasiswa Prodi Bahasa Korea, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, menerima bantuan pendidikan melalui program beasiswa dari Lotte Mart melalui Lotte Foundation yang berlokasi di Korea Selatan. Pemberian beasiswa ditandai dengan penyerahan sertifikat beasiswa kepada mahasiswa oleh perwakilan Lotte Foundation, Mr. Lee Keum Jae. Penyerahan beasiswa berlangsung Selasa (28/9) di Fakultas Ilmu Budaya UGM disaksikan langsung oleh Wakil Dekan Bidang Administrasi, Keuangan, dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Drs. Tatang Hariri, M.A., Ph.D., didampingi Ketua Jurusan Bahasa Korea, Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., dan Presiden Direktur Lotte Mart Indonesia, Moon Young-Pyo. Setiap penerima beasiswa mendapatkan bantuan pendidikan sebesar 370 USD. Beasiswa tersebut diberikan kepada mahasiswa setiap semester.
Drs. Tatang Hariri dalam kesempatan tersebut menyampaikan rasa terima kasih atas pemberian beasiswa oleh Lotte Mart. Ia berharap kerja sama yang baru dijalin ini ke depannya dapat terus berjalan. “Kami berharap kerja sama yang telah dijalin bisa berjalan dengan baik dan ke depannya jumlah penerima beasiswa Lotte Mart bisa semakin meningkat,” harapnya.
Kepada mahasiswa penerima beasiswa, Tatang berpesan agar memanfaatkan beasiswa yang diterima dengan sebaik-baiknya sehingga dapat lebih berprestasi.
Mr. Lee Keum Jae menyampaikan program pemberian beasiswa merupakan salah satu bentuk kepedulian Lotte Mart di sektor pendidikan. Dengan pemberian beasiswa tersebut, Mr. Lee berharap bisa melahirkan generasi muda yang berkualitas dan berkompeten.
Sementara itu, salah satu penerima beasiswa, Paramitha, mengungkapkan kebahagiaannya karena mendapatkan beasiswa dari Lotte Mart. Beasiswa yang diperoleh akan digunakan secara optimal. “Saya merasa senang bisa mendapat beasiswa ini dan akan saya pergunakan sebaik-baiknya. Beasiswa ini pastinya akan sangat bermanfaat bagi masa depan saya,” kata Paramitha. (Humas UGM/Ika)

Djarum Sirnas Bulutangkis Regional IV Victor Jatim Open 2010 Jatim Akan Lahirkan Jago Dunia Lagi

Bulutangkis.com - Kompetisi bulutangkis nasional paling bergengsi, Djarum Sirkuit Nasional (Sirnas) Bulutangkis Regional IV Victor Jatim Open 2010 akan digelar di Surabaya, 4-9 Oktober mendatang di dua GOR, yaitu GOR Sudirman dan GOR Suryanaga.

Seperti pada seri-seri sebelumnya yang jumlah pesertanya selalu membludak, pada Sirnas kali ini, pemainnya juga melimpah, dengan diikuti 1.600 atlet dan mempertandingkan 1.252 partai. Para pemain itu berasal dari 110 klub yang datang dari 16 provinsi.

Para pemain Pelatnas Pratama juga akan ambil bagian, seperti tiga ganda putra M Ulinuha/ Berry Anggriawan, ‎Albert Saputra/ Rizki Yanu, dan Christopher Rusdiyanto/ Markus Fernaldi. Di barisan tunggal putra, akan beradu menjadi yang terbaik antara lain Febrian, Seto Danu Kusuma, Siswanto dan Hermansah, sedangkan tunggal putri ada Tike Arieda, Renna Suwarno, Siti Anida, Mazziyah Nadhir dan Elysabeth Purwaningtyas.

Selain para pemain lokal, kejuaraan yang menyediakan hadiah Rp 190 juta ini juga diikuti pemain asing, yaitu dari Singapura, dengan delapan pemain.
Kejuaraan bergengsi di Indonesia ini mempertandingkan berbagai kategori, yaitu Pemula, Remaja, Taruna, dan Dewasa.

Ketua panitia kejuaraan, H Chodir, mengatakan, pihaknya akan berupaya keras menyukseskan kejuaraan ini. Sukses tidak saja kejuaraannya, tetapi juga sukses melahirkan calon pemain kelas dunia. Sebab, setelah Sony Dwi Kuncoro, Jatim tidak lagi mempunyai pemain papan atas dunia. Tentu ini menjadi perhatian kita bersama, kata Chodir.

Dalam sejarah perbulutangkisan Indonesia, Jawa Timur, khususnya Surabaya, selalu melahirkan jago-jago dunia, seperti Nyo Kim Bie, yang merupakan salah satu pemain yang mempersembahkan Piala Thomas pertama bagi Indonesia. Ada pula Rudy Hartono, yang tentu sangat tidak asing lagi bagi dunia bulutangkis karena merebut delapan gelar juara All England.

Selain itu, ada Alan Budikusuma. Pemain yang merupakan atlet binaan PB Djarum ini menjadi pemain pertama putra yang merebut medali emas Olimpiade. Ada pula Tony Gunawan, yang merebut medali emas Olimpiade 2000 nomor ganda putra bersama Candra Wijaya. Di samping itu, yang tidak boleh dilupakan adalah Minarti Timur, yang pernah menjadi salah satu ganda campuran terbaik di dunia.

Surabaya juga melahirkan Sony Dwi Kuncoro, salah satu andalan Indonesia yang masih aktif hingga kini. Surabaya sejak jaman dulu selalu menyumbangkan pemain papan atas dunia. Selain itu, tentu secara keseluruhan kita ingin agar dari turnamen ini melahirkan jago-jago dunia Indonesia, kata Chodir.

Chodir juga mengatakan, kejuaraan ini sangat bergengsi dan terbaik untuk tingkat nasional. Sebab, yang tampil tidak saja mantan pemain pelatnas tetapi juga pemain yang saat ini masih berlabel pelatnas.

Kejuaraan ini sangat bergengsi, karena itu pesertanya selalu membeludak. Tentu, ini sangat positif bagi pembinaan bulutangkis di Indonesia. Kita berharap, dari sini akan lahir calon-calon bintang masa depan Indonesia, kata Ketua Bidang Turnamen dan Perwasitan PB PBSI, Mimi Irawan.

Pernyataan serupa juga diungkapkan perwakilan dari PT Djarum, Roland Halim yang sangat gembira karena kejuaraan ini selalu dibanjiri peserta. Dia juga mengharapkan agar dari Sirnas akan lahir pemain hebat pada masa mendatang. Saya yakin, dari turnamen ini akan muncul jago-jago masa mendatang. Dari kejuaraan-kejuaraan sebelumnya, saya menilai ada banyak pemain potensial yang jika dibina dengan benar, akan menjadi pemain hebat, katanya.

PT Djarum, lanjutnya, merasa senang dan gembira karena dapat berpartisipasi di kejuaraan ini.
Ini telah menjadi komitmen kami dalam usaha memajukan bulutangkis Indonesia. Sekali lagi, harapan kami, calon-calon juara dunia akan lahir dari sini,” kata Roland.

Kompetisi yang menyediakan total hadiah lebih dari Rp 1,4 miliar tersebut menerapkan sistem skor yang bisa diakses secara real time, yang diberi nama Djarum Online ScoreTM (DOS). Turnamen Super Series dan Kejuaraan Dunia sudah menerapkan turnamen ini.DOS menampilkan poin-poin pertandingan secara real time. Pengakses situs dapat memilih laga yang diinginkan dari beberapa lapangan yang sedang bertanding, mereka pun dapat melihat posisi pemain yang sedang bertanding. Melalui website www.djarumsuper.com, pencinta bulutangkis yang tidak menyaksikan langsung tetap dapat merasakan ketatnya atmosfer persaingan di lapangan.

Sistem baru tersebut sangat membantu jalannya pertandingan karena lebih efektif dan efisien. Sistem itu telah diujicobakan di empat Djarum Sirnas sebelumnya, yaitu di Balikpapan, Manado, Pekanbaru, Jakarta, Bandung, Tegal, dan Bali.‬ (Image Dynamics)