berpolitik.com Di antara partai koalisi, Golkar dan PKS terlihat paling sangar. Kegarangan Golkar tak sulit diterka. Yang relatif sepi diwacanakan adalah mengapa PKS juga mengekor Golkar?
Mulanya ada tudingan bahwa ini adalah bagian strategi kosmetik politiknya PKS. Selalu mendahulukan pencitraan, meski itu menyakiti kawan seiring.
Belakang ada sinyalemen bahwa langkah PKS adalah taktik politik untuk mendapatkan 'kue' yang lebih besar lagi. Tapi, sinyalemen ini langsung hancur karena dimenit-menit akhir pun, PKS tetap keukeuh.
Kalau sinyalemen untuk mendapatkan tambahan kursi menteri itu benar, PKS pasti sudah langsung balik badan. Sebab, pekan lalu adalah titik krusialnya. Ketika Golkar semakin garang, PKS bisa menjadi penyeimbang dan sekaligus penguat posisi SBY di parlemen. Dan, pilihan itu rupanya tak mereka ambil.
Tak banyak yang meyakini, sepak terjang PKS dalam kasus Century sekadar menyatakan yang benar adalah benar sebagaimana diaku para petingginya.
Jadi, apa yang bisa menjelaskan sikap PKS ini?
Politik Pembusukan
Bisik-bisik terbaru menyebutkan manuver PKS adalah bagian dari pertarungan politik internal mereka sendiri. Adanya faksionalisasi di tubuh partai ini sebenarnya bukanlah berita baru, dan selalu juga dibantah.
Mengerasnya isu faksionalisasi itu terjadi karena Anis Matta pernah terpeleset kata dengan mendaku diri sebagian bagian faksi keadilan terkait sikap fraksi dalam koalisi dan Century. Satu kubu lainnya beroleh juluk faksi kesejahteraan.
Menurut empunya cerita, pengerasan sikap PKS merupakan upaya pembusukan. Jika PKS terus garang seperti sekarang, peluang mereka terdepak dari koalisi sungguh lebar. Dan, ini sungguh diharapkan oleh mereka yang kini mendorong PKS bersikap seperti sekarang.
Jikalau PKS terdepak, para kadernya yang jadi menteri juga diharapkan bakal rontok. Tak dapat disangkal, dari 4 menteri asal PKS, Tifatul-lah yang menjadi incaran utamanya. Informasi yang selama ini beredar menyebutkan bahwa Tifatul dan Hidayat berada dalam kubu 'faksi keadilan', sementara Anis Matta dan sejumlah koleganya disebut sebagai faksi kesejahteraan.
Kalangan Dewan Syuro partai ini mulanya beranggapan perkubuan itu bakal terdilusi seiring dengan dipilihnya Tifatul Sembiring sebagai menteri. Sebagai analis menganggap, Tifatul tengah "ditendang" ke atas.
Tapi, tak dinyana, Tifatul dkk justru makin moncer. Kiprahnya sebagai menteri menunjukkan potensinya yang selama ini belum banyak diketahui. Nilai plusnya, Tifatul dinilai 'bisa menempatkan diri'. Mulanya ada anggapan, Tifatul akan menjadi menteri yang 'ugal-ugalan' bagi SBY.
Moncernya Tifatul jelas menjadi ancaman. Karena itulah, skenario pembusukan digelar. Jika tetap berlanjut, sejumlah pihak menengarai skenario itu berhasil memikat hati para anggota Dewan Syuro.
Skenario itu barangkali saja bisa berhasil merontokkan Tifatul dkk. Tapi, yang sudah pasti, berhasil membuat situasi politik dalam negeri jadi panas-dingin. Mengeluarkan energi yang begitu besar yang tak ada hubungannya kepentingan bangsa.
Kalau sudah begini, barangkali benar sinyalemen yang pernah disuarakan di awal-awal mencuatnya kasus ini. Kasus Century sengaja digoreng untuk kepentingan-kepentingan yang tak ada hubungannya dengan kepentingan rakyat. Buat menggusur lawan politik, persisnya.
Duh...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar