Ternak potong merupakan salah satu penghasil pangan yang berupa daging yang memiliki nilai gizi serta nilai ekonomi yang tinggi. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan konsumsi daging di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya.
Meningkatnya konsumsi daging oleh masyarakat di Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan bahwa telah adanya kesadaran dari mereka untuk mengkonsumsi pangan dengan kualitas baik dan kuantitas yang cukup. Hal ini didukung juga dengan kondisi masyarakat mengenai angka pertumbuhan penduduk dan meningkatnya rata-rata kualitas hidupnya.
Lebih mendalam ternyata terjadi fenomena yang sama terhadap angka permintaan sapi potong. Akan tetapi peningkatan tersebut kemudian diikuti dengan naiknya harga daging sapi yang belum dan sudah dipotong.
Permintaan daging yang kuat tersebut kemudian menimbulkan dampak negatif terhadap perkembangan populasi sapi di Indonesia terutama sapi potong lokal. Hal ini dapat terjadi ditengarai disebabkan oleh adanya pengurasan sapi di sentra-sentra produksi untuk dipotong. Selain itu penyebab lanjutannya adalah penurunan kualitas sapi potong dari waktu ke waktu akibat sapi berkualitas baik telah habis dipotong untuk memenuhi permintaan pasar sebelumnya.
Walaupun sampai demikian, ternyata permintaan daging sapi di Indonesia tersebut belum juga terpenuhi. Oleh karena itu, Pemerintah kemudian melaksanakan kebijakan impor daging dan sapi bakalan. Dari data yang dipaparkan oleh Kuswaryan et al. (2004) bahwa impor daging tahun 1996 mencapai 4,2 metric tonnes senilai 32.433.900 US Dolar, meningkat tahun 2000 mencapai 26,1 metric tonnes senilai 41.047.000 US Dolar. Kuswaryan et al. (2004) juga menyebutkan mengenai meningkatnya impor sapi bakalan yaitu bila tahun 1990 masih di bawah angka 10.000 ekor, sepuluh tahun kemudian: tahun 2000 telah mencapai sekitar 275.000 ekor, kemudian tahun 2002 mencapai 429.615 ekor. Sungguh peningkatan yang drastis dan luar biasa, yang semakin menunjukkan ketidakmampuan kita sebagai bangsa mencukupi kebutuhan pangan rakyat sendiri dan terjadinya ketergantungan kepada luar negeri yang semakin besar.
Hasilnya, dampak dari ini semua adalah dikorbankannya anggaran negara untuk mencukupi kebutuhan tersebut, terlihat dengan semakin menggelembungnya anggaran yang disediakan sebagai devisa negara untuk impor.
Berbagai permasalahan di atas harusnya menjadi bahan renungan bagi kita, kemudian kita tergerak untuk melakukan usaha di dunia pengembangan peternakan sapi potong sehingga permasalahan yang muncul hari ini tidak lagi berkelanjutan di masa yang akan datang. Kita seharusnya dapat melihat potensi-potensi di bidang ini yang secara khusus belum tergali dan berkembang, apalagi kita hidup di Indonesia yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang berlebih sebagai pendukung utama usaha ini. Hal ini senada dengan apa yang dikemukakan oleh Kuswaryan et al. (2004) bahwa besarnya potensi sumber daya lokal, khususnya rerumputan dan limbah pertanian sebagai sumber pakan yang murah, serta tingginya angka pengangguran dapat menjadi faktor keunggulan bagi pengembangan peternakan sapi potong rakyat.
Pengembangan peternakan sapi potong rakyat tersebut harus juga kemudian memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut: 1) Produk peternakan sapi potong (daging sapi) harus mampu dikonsumsi oleh masyarakat dengan harga yang terjangkau, 2) Peternak sapi potong di dalam negeri (peternakan rakyat) secara finansial harus meraih keuntungan untuk perbaikan hidupnya sekaligus dapat merangsang peningkatan produksi yang berkesinambungan, 3) Pada struktur perekonomian nasional, usaha ternak sapi potong rakyat harus memberikan kontribusinya, artinya proses produksi secara ekonomi harus efisien dan bukan merupakan usaha produksi yang memboroskan sumber daya nasional, 4) Karena melimpahnya sumber daya lokal yang harus dimanfaatkan usaha ternak sapi potong rakyat harus mempunyai keunggulan sehingga kesinambungan usahanya tetap dapat dipertahankan (Kuswaryan et al., 2004).
Agar usaha pengembangan peternakan sapi potong rakyat memberikan sumbangan yang berarti dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan perekonomian nasional, maka keempat arah pengembangan usaha peternakan rakyat di atas harus dilaksanakan dan dicapai secara bersama dan berkesinambungan dari masa ke masa, tidak kemudian hanya diusahakan dalam satu waktu saja. Sehingga kemudian ada dua keuntungan secara khusus dari usaha ini, yaitu peternak yang mendapatkan tambahan penghasilan dan konsumen dapat mengkonsumsi daging dengan harga yang terjangkau.
Di Indonesia, proses produksi sapi potong rakyat dilakukan melalui dua tahapan, yaitu kegiatan usaha ternak pembibtan yang kemudian dilanjutkan dengan usaha penggemukan sapi sampai siap dipotong. Pada kedua jenis usaha peternakan sapi potong rakyat ini seluruh biaya ekonomi sebagian besar merupakan komponen biaya dari penyediaan pakan hijauan dan biaya tenaga kerja untuk memelihara ternak di kandang, selain juga kemudian pembelian bibit ternaknya sebagai investasi. Sehingga, mulai dari pemilihan bibit/bakalan, kemudian kualitas tenaga kerja, sampai kemudian formulasi ransumnya harus benar-benar diperhatikan juga untuk mencapai produksi yang optimal.
Informasi mengenai besarnya manfaat ekonomi, serta besarnya devisa yang dapat dihemat untuk setiap satuan ternak yang diproduksi oleh peternakan sapi potong rakyat di dalam negeri masih sangat jarang diperoleh, untuk itu perlu dilakukan penelitian mengenai hal ini.
Menurut Kuswaryan et al. (2004) bahwa jumlah devisa yang dapat dihemat dari kegiatan usaha ternak sapi potong rakyat untuk setiap sapi potong dengan berat hidup 371,24 kilogram adalah sebesar Rp.3.191.179,34. Besarnya nilai devisa yang dapat dihemat ini erat kaitannya dengan melimpahnya sumber daya lokal untuk kegiatan usaha ternak sapi potong di dalam negeri (Putri, 2001). Gonarsyah (2001) menambahkan bahwa sumber daya lokal yang mampu memberikan kontribusi besar terhadap penghematan devisa impor adalah pemanfaatan sumber pakan (hijauan pakan dan limbah pertanian) serta penyerapan tenaga kerja. Melihat keragaan ekonomi usaha ternak sapi potong rakyat seperti ini, membuktikan bahwa faktor sumber daya alam yang melimpah harus dijadikan dasar bagi pembangunan, bukan didasarkan pada bahan baku impor yang terbukti sangat rentan terhadap goncangan moneter.
Seperti yang kita ketahui bahwa dengan adanya impor daging juga akan mengakibatkan kerugian yang besar terhadap peternak lokal di Indonesia. Kondisinya akan sama dengan kasus impor beras yang kini terus-menerus dilakukan pemerintah. Peternak lokal akan kalah bersaing sewaktu akan menjualnya di pasar. Konsumen akan lebih cenderung memilih daging impor yang lebih murah dengan kemasan yang meyakinkan, sehingga mau tidak mau peternak lokal terpaksa menyesuaikan harga sesuai permintaan konsumen agar ternak/dagingnya pun laku terjual.
Dilihat dari segi kehalalan maka sesungguhnya kita patut berhati-hati terhadap daging impor. Penduduk Indonesia yang mayoritas muslim seharusnya kurang sesuai apabila kemudian gemar sekali mencari daging impor yang lebih murah. Lihat saja kebanyakan sistem pemotongan ternak di luar negeri yang tidak sesuai tuntunan agama Islam.
Dilihat dari segi kesehatan, maka kita juga perlu berhati-hati terhadap maraknya kasus sapi gila yang kerap melanda peternakan di luar negeri terutama Eropa dan Amerika. Ada juga kemungkinan menyebarnya penyakit tersebut ke Indonesia apabila pemerintah kita tidak berhati-hati.
Dilihat dari sisi harga diri kita sebagai sebuah bangsa, maka dengan adanya impor sesungguhnya kita telah dijajah dan tidak dihargai. Bagaimana tidak, ternyata daging yang banyak diimpor di Indonesia adalah daging sampah, artinya daging sisa/buangan yang tidak dimanfaatkan oleh penduduk di negeri asalnya, karena daging tersebut banyak kandungan kolesterolnya dan sedikit gizi yang terkandung.
Menuju Swasembada Daging 2010
Rencana pemerintah untuk mewujudkan swasembada daging di tahun 2010 terlihat sebagai sebuah perencanaan yang mungkin sulit dicapai. Hal ini terlihat dari masih besarnya tingkat impor daging sekarang ini yang dilakukan pemerintah dan belum siapnya masyarakat kita yang berkonsentrasi dalam peternakan.
Namun, meningkatnya pertumbuhan peternakan-peternakan feedlot dewasa ini memberi secercah harapan untuk terpenuhinya rencana swasembada daging 2010 tersebut. Usaha feedlot yang tumbuh sebagai sebuah peternakan rakyat adalah merupakan jalan yang sangat tepat, karena apabila konsep peternakan digagas dan dibangun dari pondasi di lingkup masyarakat maka secara tidak langsung akan ikut memperkokoh peternakan-peternakan besar dan ekonomi Indonesia secara umum.
Ekonomi rakyat akan terangkat, segala permasalahan akan dapat diselesaikan secara mudah dengan kerjasama dalam sebuah kelompok, dan peternak akan lebih mudah mencari dan mendapatkan bantuan modal bagi penguatan usaha peternakannya.
Tentu saja kemudian pelaksanaan dari ini semua harus dibarengi dengan tersedianya bibit ternak yang berkualitas. Inilah kemudian yang menjadi tugas para peternak pembibitan. Peternakan pembibitan dalam lingkup ini hendaknya juga harus dibangun dari kalangan masyarakat kecil dan menengah dahulu. Saat ini telah bermunculan di berbagai tempat suatu pusat kelompok peternakan pembibitan milik rakyat atau lebih dikenal dengan istilah Village Breeding Center (VBC). Dengan adanya VBC ini peternak-peternak yang mempunyai indukan akan lebih mudah dalam mendapatkan straw dari pejantan berkualitas, terjamin mutunya. Kemudian apabila menurunkan anakm secara langsung akan mudah dilakukan recording sehingga akan mendukung program pemerintah dalam hal kontrol dan pengawasan perkembangan populasi bangsa suatu ternak. Peternak pun kemudian akan mudah memasarkan bibit yang dihasilkan dalam peternakannya.
Kedua program, yaitu peternakan potong rakyat dan peternakan pembibitan rakyat inilah yang kemudian dapat mendorong tercapainya program pemerintah untuk swasembada daging di tahun 2010 apabila dalam pelaksanaannya dilakukan secara sinkron dan kontinyu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar