Hidayah say's

Tunjukkan Aksimu di Ramadhan 1431 H.

Rabu, 02 Desember 2009

Latar Belakang Acara INDONESIA 100%.



Tiada kata akhir bagi bangsa Pejuang, setidaknya inilah yang diungkapkan oleh Bung Karno. Sesulit apapun krisis yang melanda negeri ini, Indonesia tidak boleh menyerah. Seperti yang diungkapkan oleh Taufik Ismail dalam potongan bait puisinya “Seratus Juta” (2008:5): “Saudaraku. Kita mesti berbuat sesuatu. Betapapun sukarnya itu.”

Optimisme bahwa Indonesia bisa berubah menjadi lebih baik mesti dibangun sejak saat ini. Optimisme itu harus dibangun seiring waktu yang terus berjalan. Keoptimisan akan menjadi lilin penerang di tengah kegelapan bangsa. Keoptimisan akan menjadi generator energi baru ditengah banyaknya kepesimisan atas nasib negeri oleh sebagian penduduk negeri ini. Keoptimisan harus dibangun dengan kerja-kerja besar seluruh elemen bangsa ini.

Bangsa Indonesia akan memasuki fase 101 tahun kebangkitan nasional, akan melewati 11 tahun reformasi, akan merayakan 64 tahun kemerdekaannya dan 81 tahun sumpah pemuda. Harapannya, momentum kebangsaan yang menghiasi tahun 2009 bukanlah ornament formalitas dan ritual semata. Momentum ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar bangsa ini masih bisa menyulam minus-minusnya dan menggantinya dengan hal yang lebih baik.

Butuh energi yang besar untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Butuh sumber daya manusia yang peduli terhadap nasib negeri ini. Negeri ini butuh putra-putri terbaiknya untuk bersama-sama membangun negeri, karena kita hanya punya satu bumi untuk ditempatkan bersama, yaitu bumi pertiwi; kita hanya punya satu negeri untuk dibangun bersama, yaitu Indonesia.

Perubahan itu kian dekat. Mesin-mesin perubahan itu kini hadir ditengah dahaga krisis multidimensi bangsa. Energi-energi yang siap digunakan untuk perbaikan bangsa ini telah hadir kembali di bumi pertiwi. Semangat para pejuang kemerdekaan, semangat para pengemban misi reformasi telah diwariskan kepada salahsatu elemen bangsa: pemuda.

Pemuda telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ukiran sejarah bangsa Indonesia. Para pemuda selalu hadir di tengah kebuntuan skenario sejarah bangsa yang sedang di jalani. Setidak-tidaknya dalam hitungan abad ini, ditandai oleh lahirnya generasi baru dalam setiap persimpangan sejarah. Generasi Muda, khususnya Mahasiswa, adalah mutiara berharga bagi bangsa ini. Generasi Muda memiliki peran besar yang terus memberikan energi-energi baru untuk mendorong kemajuan bangsa. Kesadaran dalam diri mahasiswa terwujud atas kepedulian, kepekaan, proses inteletual, dan rasa kecintaan pada rakyat dan bangsa.

Generasi muda Rengasdengklok telah membuktikan diri menjadi agen revolusioner hingga Soekarno dan Hatta memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Generasi pemuda angkatan 28 telah membuktikan sebagai pelopor persatuan nasional dengan simbol tanah air, kebangsaan, dan bahasa persatuan dalam bingkai sumpah pemuda. Generasi 1900-an mempelopori kebangkitan nasional. Semua angkatan itu silih berganti hingga generasi 1998 yang telah menjadi pemuda-pemuda reformis—pembuka jalan bagi perbaikan bangsa Indonesia.

Sejarah anak muda adalah sejarah perlawanan dan pembelaan. Pemuda harus menjadi motor penggerak perubahan, sebab seperti yang dikatakan oleh Adhyaksa Dault (2009:23) bahwa perubahan itu milik generasi muda.
Kini, salahsatu elemen terpenting pemuda—mahasiswa harus kembali mengambil bagian perubahan bangsa Indonesia menjadi perubahan yang didambakan setiap kepala penduduk negeri ini. Perubahan yang akan membawa penduduk negeri ini tidak lagi miskin. Perubahan yang akan membawa negeri ini bebas dari para koruptor dan memiliki pemimpin yang adil. Perubahan yang akan membawa setiap anak negeri bisa berpendidikan, memiliki jiwa dan raga yang sehat, memiliki lingkungan yang bersahabat, dan memiliki penduduk yang bermartabat. Perubahan yang akan melahirkan butir-butir realisasi pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Mahasiwa harus menjadi motor penggerak perubahan itu. Karena perubahan adalah sebuah kepastian.

Inilah yang menjadi dasar mengapa perlu adanya rangkaian besar dengan tema ‘INDONESIA 100 PERSEN’. Rangkaian ini diharapkan menjadi sebuah rangkaian kegiatan untuk menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap bumi pertiwi. Rangkaian ini juga diharapkan menjadi bukti bahwa generasi mahasiswa kini tidak hanya bisa berbangga atas ukiran sejarah dan romantisme masa lalu. Semoga rangkaian ini menjadi bukti bahwa kami—mahasiswa—masih memiliki rasa cinta. Semoga rangkaian kegiatan ini menjadi ajang untuk menyuarakan: Indonesia 100 Persen!

Tidak ada komentar: