Hidayah say's

Tunjukkan Aksimu di Ramadhan 1431 H.

Minggu, 15 Agustus 2010

Benarkah Foke Tak Libatkan FPI?


(berpolitik.com): Benarkah Front Pembela Islam dilibatkan Pemda DKI dalam urusan menangani tempat hiburan malam selama bulan Ramadhan ini?

Pertanyaan ini meruyak setelah Gubernur DKI jakarta, Fauzi Bowo, melansir bantahan yang dikutip berbagai media cetak dan online (8/8). Bantahan itu sejatinya sudah mulai keluar sejak Sabtu malam (7/8) di jalur twitter.

Dalam bantahannya sebagaimana dikutip detik.com, Foke, begitu nama pop Fauzi Bowo, menyatakan, "Pengamanan bulan suci ramadan adalah tugas Pemprov DKI Jakarta bersama dengan Polda Metro Jaya, FPI tidak akan dilibatkan" tegas dia.

Foke merasa perlu membantah ini karena aliran kegusaran, kritik dan caci maki bergulir deras, terutama sekali di ranah social media seperti facebook dan terlebih twitter.

Kegusaran dan kritik tumpah ruah setelah Foke bersama Kapolda Metro Jaya menghadiri harlah organisasi ini di markas besar mereka di bilangan Petamburan, Jakarta Pusat.

Bantahan Foke membuahkan tanggapan bahwa isu sengaja dihembuskan dengan niat busuk: untuk makin merobek reputasi Foke. Yang lebih sederhana: orang-orang termasuk sibuk menyoal Foke, sementara para kriminal yang sebenarnya justru diabaikan.

Sebagai catatan, dalam sepekan terakhir, tumpahan kekesalan kepada Foke begitu meruyak antara lain karena rencana pelarangan motor melintas di jalur protokol setelah lebaran dan kemacetan Jakarta yang bikin penderitaan warga berlipat-lipat. Yang terakhir ini misalnya tercermin dari akun @bimaAryaS yang menulis begini,"Hampir tengah malam, Gatot Subroto msh macet. Kemana ahlinya??????" (posting 6 Agustus 2010)pada pkl 11.40 PM).

Benarkah isu keterlibatan itu benar-benar sekadar kabar bohong belaka?


Pernyataan Anak Buah Foke
Kalau dirunut ke belakang, tanggapan miring terhadap soal pelibatan FPI ini sekurang-kurangnya berdasarkan fakta berita yang kemudian dikembangkan menjadi semacam hipotesis tertentu.

Hipotesis ini sebagian karena 'pengalaman di masa lalu' dan sebagian lagi karena lebih konvergen dengan apa yang dipercaya pada pihak-pihak yang kemudian mengembangkannya menjadi percakapan sosial yang penuh muatan.

Fakta berita yang dimaksud adalah pernyataan dua pejabat Pemda DKI. Kedua-duanya sama-sama bilang ada pelibatan FPi. Hanya saja pelibatan itu bersifat terbatas:

Ketua Satpol PP DKI sebagaimana dikutip detik.com 3 Agustus 2010 bilang : "Kita akan libatkan ormas untuk mengawasi tempat hiburan malam sesuai dengan perda. Kita sudah melakukan komunikasi dengn FPI dan akan melakukan komunikasi dengan ormas lainnya," ujar Kasatpol PP DKI Effendi Anas saat dihubungi detikcom, Selasa.

"Kita akan awasi betul, dan kita berterimakasih kalau ormas mau membantu kita mengawasi dan melaporkan jika ada yang menyalahi perda. Kita akan tindak tegas pengusaha nakal, tanpa pandang bulu," ujar Efan. Efan juga mengingatkan agar ormas tidak melakukan tindakan anarkis terhadap tempat hiburan malam yang dianggap melanggar perda.



Jubir Pemda DKi sebagaimana dikutip sinar harapan 7 agustus 2010 bilang: "


"Mereka (FPI-red) itu dilibatkan hanya untuk melaporkan adanya penyimpangan tempat hiburan selama Ramadan.Lalu mereka laporkan itu kepada pihak kepolisian dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). Nantinya kedua instansi itu yang melakukan penindakan," ungkap Juru Bicara Pemda Jakarta Cucu Ahmad Kurnia. Massa FPI dilarang melakukan sweeping apalagi bertindak anarkistis.

Yang menarik, FPI punya harapan lain.

Pilot Project
Sebagaimana dikutip di SH 7 Agustus itu, FPi beranggapan keterlibatannya di pemda DKI hanyalah pilot project. Nantinya, tahun depan, kata Sekretarius DPD FPI Jakarta, Habib Novel, FPI berharap massa mereka juga disertakan dalam tindak pengawasan di bulan Ramadan di semua daerah di Indonesia.


Dan, FPI menegaskan tak akan tinggal diam, meski hanya monitoring.

"Monitoring FPI, menurut Novel, nanti akan dipimpin langsung oleh Ketua FPI Pusat Habib Rizieq. Novel menyebut, ada 30-an tempat di sekitar Jakarta yang sudah masuk dalam daftar pengawasan mereka sejak 3 tahun lalu. Inilah yang akan dilaporkan FPI untuk di-sweeping oleh polisi dan Satpol PP. Namun, jika proses sweeping tersebut ada preman yang dilibatkan oleh pengelola tempat hiburan, menurut Novel, massa FPI akan diturunkan. ?Kalau ada pengadangan preman, kami yang maju duluan,? ujarnya (SH 7 Agustus 2010).


Pintu Masuk?
"Keterlibatan preman" merupakan password yang diyakini sebagai jalan bagi FPI memainkan peran lebih dari sekadar monitoring. Dan hipotesis ini mudah dikembangkan terutama karena ada sejumlah studi dan analisis yang menyebutkan kelompok-kelompok seperti FPI adalah "kelompok yang dibesarkan dan dipelihara" oleh elit politik dan TNI tertentu di masa lalu.

Dus, bantahan Foke mungkin benar adanya.

Tetapi, kegusaran dan bahkan caci maki terhadap dirinya juga tak asal jeplak. Ada sejarah interaksi wacana dan tindakan di masa lalu yang menyebabkan pelibatan FPI meski katanya sekadar memonitoring adalah sebuah "Duet dahsyat" (tentu dengan makna sindiran) dan pula "aliansi tak suci".

Kegusaran ini makin menggulung karena Fpke secara telak menghadiri harlah FPI. Bagi para pengkritik dan pengecamnya, kehadiran itu adalah simbolisasi pengakuan terhadap (sepak terjang) FPI. Menyangkut kehadirannya itu, Foke hanya bilang, "Saya hanya diundang"

Pilihan untuk melibatkan (di atas kertas secara terbatas) FPI tentu merupakan buah perhitungan yang matang. Bagaimana persisnya hitung-hitungannya itu tentu saja hanya Foke dan tim-nya yang tahu. Hitung-hitungan ini jadi penting karena 2012 sudah dekat.

Tidak ada komentar: