Hidayah say's

Tunjukkan Aksimu di Ramadhan 1431 H.

Minggu, 14 Maret 2010

Oposisi atau Koalisi?


(berpolitik.com): Mana yang menguntungkan, jadi oposisi atau koalisi? Menurut Taufik Kiemas, PDIP merugi jadi oposisi. Menurut sebagian pengamat, partai-partai koalisi dalam Kabinet Indonesia Bersatu jilid 1 juga merugi, terkecuali Demokrat. Jadi, mana yang benar?

Karena merasa merugi, maka TK dengan penuh gairah menyorong partainya menjadi anggota koalisi. Karena merasa merugi, partai-partai koalisi dalam KIB jilid 2 merasa perlu unjuk diri, meski itu berarti tak sejalan dengan kebijakan pemimpin koalisi (SBY/Demokrat).

Akankah langkah-langkah itu mengubah nasib mereka di tahun 2014?

PDIP: Bisa, Asal....
Seperti pernah diulas, masalah terbesar si moncong putih ini adalah tidak mengerjakan 'pekerjaan rumah'-nya. Pokok terpentingnya, partai wong cilik tidak melakukan semacam 'pengakuan kolektif' terhadap tingkah pola mereka pada saat berkuasa.

Secara personal, Taufik Kiemas pernah melansir wacana 'bertaubat' sembari mengakui banyak kadernya yang 'mabuk kuasa' ketika mereka memerintah. Pengakuan itu berhenti pada Taufik Kiemas dan hanya bertahan dalam bilangan bulan.

Di lapangan, tak banyak perubahan berarti. Pada saat yang sama, 'demoralisasi' yang terbangun tak jua dipangkas habis. Akibatnya, partai ini kehilangan modal sosialnya yang paling berharga: kegotongroyongan.

Pupusnya semangat kesukarelawanan ini menyebabkan mesin partai mudah mangkrak setiap kali aliran 'gizi' tersumbat. Yang paling fatal, partai ini menjadi 'kehilangan' roh. Ia jadi beda tipis dengan Golkar. Sama-sama tambun. Bedanya, Golkar selalu punya cara melumaskan mesinnya dengan gizi dari berbagai cara, sedangkan PDIP tidak.

Menjadi bagian berkuasa, merupakan alternatif "terbaik dari di antara yang terburuk".

Prasyaratnya, genggaman kekuasaan tidak lagi mengalir ke kantong-kantong pribadi. Tapi, terarah dengan jelas untuk publik. Sekurang-kuranngya, konstituennya sendiri. Dengan praktik nyata, partai ini bisa menunjukkan kembali marwahnya sebagai representasi wong cilik.

Jika terus beroposisi dengan pola tingkah seperti sekarang, PDIP bakal semakin tercecer. Golkar bisa terus berulah, karena seperti sudah disebut, terlalu banyak aliran gizi yang bisa mereka dulang. Meski tentu saja tidak sederas dahulu.(bersambung)

Tidak ada komentar: