Hidayah say's

Tunjukkan Aksimu di Ramadhan 1431 H.

Selasa, 03 November 2009

Kurangi Polusi Perkotaan DIY, PSSL Kembangkan "Taman Atap"


Pusat Studi Sumber Daya Lahan (PSSL) UGM tengah mengembangkan taman atap (roof garden) untuk mendukung proses penghijauan dan mengurangi pencemaran udara di Kota Yogyakarta. "Taman atap ini dapat menjadi teknologi alternatif guna menjawab semakin minimnya lahan di perkotaan untuk penghijauan dan daerah resapan air," kata Ir. Darmanto, Dip. H.E., M.Sc., dalam seminar hasil penelitian pengembangan garden roof, Kamis (8/10) di Wisma MM UGM.
Menurut Darmanto, tujuan pengembangan taman atap adalah untuk mengantisipasi penyusutan lahan, terutama di perkotaan, dan menyusutnya ruang terbuka hijau yang diganti dengan bangunan pemukiman dan perkantoran di DIY. Diakuinya bahwa potensi taman atap ini sedang dalam tahap pengembangan penggunaan teknologi sesederhana mungkin agar dapat diaplikasikan oleh masyarakat.
“Memanfaatkan atap bangunan untuk kegiatan awal memang tidak sempurna, tapi semakin lama akan sempurna. Dengan menggabungkan disiplin ilmu pertanian dan teknik dengan tantangan ruang kota sangat padat, masalah konstruksi bangunan, lingkungan, dan tanaman,” ujarnya.
Dody Kastono, S.P., M.P., salah satu anggota peneliti PSSL, mengemukakan taman atap dapat menyerap gas polutan, mampu meredam pemanasan kota dan radiasi sinar matahari hingga 80 persen, serta meredam tingkat kebisingan di sekitar lokasi taman. “Selain menambah keteduhan, taman atap juga bisa dimanfaatkan untuk menyerap gas-gas beracun,” jelasnya.

Ia mencontohkan bambu atau palem dapat menyerap gas formalin dan bensin. Sementara itu, tanaman bakung selain menyerap gas formalin dan bensin, juga menyerap alkohol dan aseton yang dihasilkan cat. Meski demikian, kata Dody, pembuatan taman atap memang tidak murah dan membutuhkan struktur serta konstruksi atap yang khusus. Bahkan, untuk hasil yang optimal, konstruksi atap untuk taman harus didesain sejak awal sebelum gedung dibangun.

Tidak ada komentar: